Komisioner KPID KEPRI 2014 - 2017

Komisioner KPID 2014-2017

 

struktur Organisasi

Pengunjung

1564201
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Seluruhnya
296
559
2461
9328
1564201

Forecast Today
840

6.00%
0.79%
0.46%
0.68%
0.36%
91.71%

IP Anda :54.144.217.63

Lahirnya Undang-Undang Penyiaran No. 32/2002 lebih dikarenakan tuntutan reformasi termasuk didalamnya reformasi dunia penyiaran yang menempatkan publik sebagai pemilik dan pengendali utama ranah penyiaran. Terbitnya UU ini melahirkan semangat utama yakni pengelolaan sistem penyiaran yang bebas dari berbagai kepentingan, baik pribadi, kelompok, golongan, partai maupun kepentingan bisnis. Karena penyiaran merupakan ranah publik, maka harus digunakan sebesar-sebesarnya untuk kepentingan publik.
Perwujudan filosofinya dari UU tersebut, pertama, adanya pembatasan kepemilikan lembaga penyiaran yang mengharuskan keberagaman kepemilikan (diversity of ownership), dimana prinsip keberagaman kepemilikan lembaga penyiaran tidak terpusat dan dimonopoli oleh segelintir orang atau lembaga saja. Dengan prinsip ini, maka akan menjamin munculnya iklim persaingan yang sehat di dunia penyiaran. Ini tentu berbeda dengan UU sebelumnya, yakni UU No. 24 tahun 1997 pasal 7 berbunyi “Penyiaran dikuasai oleh Negara yang pembinaan dan pengendaliannya dilakukan oleh pemerintah”.
Kedua, Keberagaman Model dan Jenis Isi Siaran (Diversity of Content). Lembaga penyiaran memberikan pelayanan informasi yang sehat berdasarkan jenis program maupun isi siaran. Untuk keberagaman jenis program dan isi siaran, televisi-televisi nasional sejak diberlakukannya UU ini sudah melakukannya, namun masih belum berani total dalam pelaksanaanya, kecuali televisi berita ini sudah ada yang mempeloporinya seperti Metro TV, TV One, I New TV dan Kompas TV. Sisanya program siaran lembaga penyiaran masih abu-abu dalam menayangkan tayangannya selama 24 jam, yakni ada yang berita 3,5 jam, musik 3,5 jam, sinetron 4 jam, investigasi 4 jam, entertainment 4 jam, film 2 jam, selebihnya reality show, atau programnya masing-masing televisi berkutat antara news, entertainment, film, music, reality show, humor dan kartun. Belum ada televisi yang secara frontal programnya didominasi satu jenis program, misalnya televisi kartun, televisi musik atau televisi olahraga. Ini juga merupakan jawaban para direktur televisi swasta saat  Evaluasi Dengar Pendapat (EDP) terhadap 10 televisi berjaringan  di Jakarta beberapa waktu lalu. Mereka rata-rata masih menjawab beragam program dan mata acara belum berani membuat televisi yang berprogram khusus.

Ketiga, Desentralisasi Lembaga Penyiaran Swasta (LPS). Desentralisasi ini merupakan amanat UU. No. 32 Th 2002 agar membawa perubahan bagi sistem perekonomian daerah dari institusi penyiaran sentralistik menjadi desentraistik. UU No. 05 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat juga mendukung UU penyiaran. Selain itu karena adanya Otonomi Daerah, istilah Televisi Nasional tidak ada lagi dalam UU tersebut, yang ada hanyalah Stasiun System Jaringan (SSJ). Dalam SSJ ada hak dan kewajiban antara jaringan induk dan angggota jaringan. Jaringan Induk wajib menayangkan tayangan 90%  dan anggota jaringan wajib menayangkan 10% muatan lokal dalam 24 jam. Televisi Induk wajib menyediakan waktu 10% dari 24 jam yang ditayangkan yaitu 2 jam 24 menit. Dengan demikian, televisi induk harus meluangkan waktu 2 jam 24 menit untuk diisi dengan konten lokal. Jika dalam 2, 24 jam dibagi 30 menit dalam satu acara,  maka akan ada lima acara yang harus dikerjakan oleh perusahaan dan industri lokal. Tujuannya, UU tersebut mewajibkan konten lokal 10%, agar tumbuh talent-talent intelektual lokal dan rumah produksi lokal yang kreatif dan kompetitif.
Keempat, Penyiaran adalah Ranah Publik. Kenapa disebut ranah publik? Karena frekuwensinya sangat terbatas, dan spectrum frekuensi diatur Badan Internasional bernama International Telecommunication Union (ITU), bukan diatur oleh rakyat, oleh Negara atau oleh lembaga penyiaran swasta. ITU menjadi badan khusus di PBB yang menangani masalah telekomunikasi, dimana di seluruh dunia hanya dibagi menjadi tiga bagian yaitu region satu wilayahnya mencakup Eropa, Afrika dan Timur Tengah, region dua wilayahnya mencakup seluruh Amerika baik Amerika Utara maupun Amerika Selatan, dan region tiga wilayahnya meliputi Asia Pasifik dan Australia, dalam pembagian chanel juga sudah ditentukan yaitu chanel angka 1 – 86 untuk televisi, angka 87 – 108 untuk Radio FM, dan 109 ke atas untuk komunikasi penerbangan. Jika ada radio yang memiliki chanel 108.5 chanel tersebut sangat rentan karena dekat sekali dengan chanel penerbangan. Sebagai contoh, pesawat Sukhoy yang jatuh di Gunung Salak disinyalir terdengar musik dari chanel radio yang bocor. Karena merupakan ranah publik yang terbatas maka diharapkan poin-poin acaranya bisa membentuk opini, karakter yang berdimensi kebaikan kepada publik.

Dalam UU. No. 32/ 2002 ada lima tujuan penyiaran, pertama, untuk memperkukuh integrasi nasional. Apakah tujuan yang pertama ini sudah tercapai? Mungkin sudah, namun, prosentasinya belum sampai 70 persen bahkan bisa kurang. Kedua, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa. Apakah tujuan yang kedua ini sudah tercapai? Yang kedua ini jauh lebih rendah prosentasinya, mungkin belum sampai 40 persen, tetapi bisa juga lebih. Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa. Apakah tujuan yang ketiga ini sudah tercapai? Jawabanya, kalaulah sudah tercapai, prosentasinya tidak lebih dari 70 persen.
Keempat, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang  mandiri, demokratis, adil, dan sejahtera. Lagi, apakah sudah tercapai? Jawabannya, jika sudah, prosentasinya hanya 60 persen, tetapi mungkin juga lebih. Dan kelima, menumbuhkan industri penyiaran Indonesia. Apakah tujuan yang kelima ini sudah tercapai? Mungkin ini yang sudah tercapai dan prosentasinya bisa 90 persen, namun bisa juga kurang.
Penyiaran berfungsi sebagai informasi, karena merupakan alat penyampai informasi dalam kontek kehidupan sosial bermasyarakat dan mempunyai peran yang signifikan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Kita tahu, hampir semua aktifitas masyarakat,  baik individu maupun kelompok, erat kaitannya dengan media massa. Penyiaran juga berfungsi sebagai pedidikan, karena secara langsung maupun tidak langsung, penyiaran memberikan pengaruh besar terhadap perubahan kehidupan masyarakat. Pertanyaannya, apakah penyiaran sudah menjadi pendidik di Indonesia? Ini juga perlu didiskusikan bersama. Selain itu, penyiaran berfungsi sebagai hiburan yang sehat, disebabkan informasi dan hiburan yang sehat seperti isu-isu global, terjadinya bencana, perkembangan sains, olahraga, musik, drama, dan informasi sehat lainnya menjadi kebutuhan masyarakat modern. Bagaimana dengan penyiaran yang ada di Indonesia? Pengelolanya menyadari atau tidak bahwa fungsi penyiaran adalah hiburan yang sehat bukan hiburan yang menghina, melecehkan, atau mengejek. Fungsi terakhir penyiaran sebagai kontrol dan perekat sosia. Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, budaya, tradisi, dan adat, sehingga membutuhkan pengawasan dan perekat sosial yang kompeten. Cara jitunya ada pada penyiran. Jika penyiaran mampu menjadi kontrol dan perekat sosial, maka fungsi penyiran yang terakhir sudah tercapai. Jika belum, bisa jadi fungsi penyiaran yang terakhir ini juga belum tercapai.
Berkaca pada negara-negara maju dan demokratis, peran pemerintah yang berkaitan dengan publik harus dikurangi. Sedangkan UU Penyiaran mengamanahkan penyiaran itu media kebebasan pers dan pemerintah tidak boleh mengekang. Karena itu, perlu dibentuk lembaga atau badan yang independen yang lebih mewadahi negara bukan pemerintah yang mengatur regulasi penyiaran serta mendengarkan aspirasi masyarakat. Dalam UU No. 32/2002 pasal 7 menyebutkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersifat independen. Jadi, jika KPI menegur salah satu acara televisi dikarenakan adanya aspirasi masyarakat, sebab KPI mewakili peran masyarakat, bukan peran pemerintah.
Kenyataan yang ada, lembaga penyiaran berjaringan masih banyak yang melanggar Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Dalam setahun, ratusan surat teguran dilayangkan KPI kepada televisi tersebut. Hampir semua jenis program televisi mendapatkan teguran, apakah program jurnalistik, feuture, reality show, entertainment, infotainment, film, humor, horor dan musik, karena dalam program yang disiarkan secara langsung sering diselingi dengan canda. Dan dalam canda itulah pembawa acara atau tamu acara melakukan pelanggaran.
Benarkah belum banyak tontonan televisi yang memberikan nilai bagi karakter bangsa? Jika benar, maka tidak salah kalau orang bijak berkata, “Tayangan televisi itu cerminan masyarakatnya“. Karena itu, sudah semestinya KPI ditambah kewenangannya, misalnya, Izin Program Radio/chanel (IPR) yang berwenang KPI, dan ISR (Izin Siaran Radio/ Channel) masih tetap kewenangan pemerintah, gabungan IPR dan ISR itulah yang menjadi kewenangan pemerintah untuk memberikan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) tetap, sehingga KPI berwenang menegur atau mencabut program yang melanggar. Tentunya teguran yang diberikan diharapkan memberikan perbaikan terhadap tayangan untuk masa yang akan datang. Akan tetapi, jika banyak tontonan yang sudah mempunyai value bagi masyarakat, KPI juga harus memberikan apresiasi, sehingga memperbaiki masyarakat melalui rekayasa budaya/ tayangan televisi cepat tercapai. Semoga.***(Muhith, M.Ag, Koordinator Isi Siaran KPID Kepri, Dosen STIQ Kepri)


Cerita remaja apapun bentuknya apabila didramatisir oleh produser TV dan dimunculkan dengan ide-ide kekinian, tetap akan memiliki nilai jual tersendiri. Apalagi dikemas dalam sebuah sinetron remaja yang sarat dengan emosional dan heroik, tentu akan melahirkan bintang-bintang


Sebagai negara berkembang, masyarakat Indonesia umumnya masih lebih memilih TV free to air (TV gratis) ketimbang TV berbayar, kecuali daerah blank spot atau tidak tersedia channel yang gratis sehingga masyarakat memilih TV berlangganan atau TV kabel, karena didalam TV Kabel semua TV free to air itu tersedia didalamnya. Selain itu, masih sedikit penonton dari masyarakat Indonesia yang memilih program-program tertentu yang hanya bisa akses melalui TV internet, sehingga sinetron remaja yang terkadang alur ceritanya kurang bermutu selalu memiliki rating yang tinggi dihati pemirsa.

Secara market, perkembangan remaja di Indonesia tentu tidak akan jauh berbeda dengan jumlah perkembangan penduduk di Indonesia, jika seorang calon pemimpin dalam sebuah pemilihan kepala daerah memperhitungkan jumlah pemilih remaja, tentu seorang produser TV berjaringan juga akan memperhitungkan target penonton dari remaja dalam sebuah sinetron remaja  yang akan ditayangkan, sehingga dari segi marketing sinetron remaja tetap akan memiliki penonton yang setia sebagaimana yang dilalukan oleh pengelola majalah atau tabloid yang membidik pembaca dari kalangan remaja.

Secara emosional, masyarakat akan lebih tertarik dengan menonton kehidupan remaja, apakah yang berkaitan dengan cita-citanya, ambisinya, emosionalnya, cara menyelesaikan pertentangan, problematika asmaranya, dan banyak cerita lain yang selalu menarik jika disetting dengan kondisi saat ini. Karena kenyataannya perkembangan sosial masyarakat senantiasa dinamis sehingga problematikanya tetap akan senantiasa bergerak dan itu menjadi modal bagi seorang produser untuk menangkap peluang usaha di bidang Production House (PH) yang mengangkat tema-tema sinetron remaja.

Jam tayang sinetron remaja sering diputar pada jam tayang prime time (jam tayang utama) dimana dalam jam tayang tersebut seluruh anggota keluarga berkumpul bersama setelah seharian beraktifitas. Strategi penayangan sinetron remaja pada jam tayang prime time ini terbukti ampuh untuk meraih pemirsa potensial TV . Prime time tersebut biasanya antara pukul 18.00 – 22.00 waktu setempat, waktu-waktu tersebut biasanya seluruh keluarga rehat sejenak melepaskan lelah setelah seharian bekerja diluar rumah, sehingga momen tersebut sangat tepat untuk mendapatkan hiburan yang ringan di dalam keluarga. 

Salah satu sasaran sinetron remaja adalah penonton berat TV yang banyak memiliki waktu luang, awalnya sekedar mencari pengetahuan atau hiburan di TV, karena dalam proses perjalanannya mencari hiburan keluarga tersebut bertemu dengan acara sinetron TV, setelah mulai mengetahui alur ceritanya, apalagi menjelang berakhirnya satu episode selalu ditampilkan yang membuat penasaran sehingga acara sinetron tersebut menjadi andalan acara hiburan dan akhirnya menjadi penonton berat sinetron remaja tersebut. Masyarakat yang mudah menjadi penonton berat ini biasanya tergolong pemirsa permisif atau penonton yang kurang bisa memilah tayangan TV karena tidak adanyan pilihan tayangan yang kreatif dalam konsep dan kemasan yang di tayangkan TV sehingga penonton meligitimasi rating yang disedang diriset Nielsen.

Berbicara rating tentu tidak lepas dari Nielsen, dulu namanya AC Nielsen satu-satunya perusahaan internasional yang konsen terhadap riset kuantitas penonton TV di Indoensia. Jika mau melihat tayangan TV itu ratingnya tinggi atau rendah tidak pernah lepas dari risetnya Nielsen karena rekomendasinya memang bisa dipertanggungjawabkan secara riset kuantitatif. Termasuk sinetron-sinteron remaja yang senantiasa ratingnya tinggi itu juga karena rekomendasi dari Nielsen. Kelebihan riset Nielsen adalah malam itu juga rating penonton dapat dilihat karena Nielsen telah membayar orang-orang yang diacak di 
Kota-kota besar untuk senantiasa memantau pergeseran penonton TV setiap ada pergantian acara di TV sehingga jika ada perusahaan lain yang mau membuat riset serupa sudah kalah cepat dengan apa yang dilakukakan Nielsen. Untuk Riset kualitatif penonton TV di Indonesia KPI dan 10 Universitas terkemuka di Indonesia yakni Universitas Islam Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri Kalijaga Yogyakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Hasanuddin Makasar, Universitas Sumatera Utara Medan, Institut Agama Islam Negeri Ambon, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dan Universitas Udayana Denpasar sudah mengadakan riset untuk mengimbangi riset yang dilakukan Nielsen. Tujuannya adalah agar rekomendasi riset Nielsen tidak menjadi satu-satunya rekomendasi yang menjadi harga mati dalam sebuah tayangan TV, rating tidak menjadi “tuhan”nya industri TV yang menentukan kelangsungan sebuah program, namun karena Riset yang dilakukan oleh KPI dan 10 Universitas tersebut berkala dan setahun hanya sekali sehingga pemilik TV tetap akan memilih Nielsen dalam melihat rating sebuah tayangan TV.

Apa yang paling menonjol dari sinetron remaja yang senantiasa melejit, jika dilihat dari alur cerita sinetron remaja Indonesia biasanya ceritanya standar, biasa-biasa saja jarang sekali mendapatkan cerita yang fenomenal yang mengacak-acak emosional penonton, yang bisa membuat sekejap penonton tertawa terbahak-bahak, dalam sekejap penonton juga merasa sedih atau bahkan menangis. Namun, karena dalam cerita tersebut diselingi dengan cerita asmara yang diberi bumbu-bumbu emosi dan rasa penasaran sehingga penonton sanggup menunggu episode demi episode yang disuguhkan sehingga tahu-tahu sudah tiga tahun dan tinggal menunggu episode terakhir, begitulah sinetron-sinetron remaja Berjaya di TV mulai dari Tamara Bleszynski dengan sinetron Opera SMU, Alyssa Soebandono dengan sinetron  Inikah Rasanya dan terkini  Super Puber yang dibintangi Ajil Ditto, Mawar Eva De Jong, Tike Priatnakusumah, Surya Saputra dan Agus Kuncoro.

Salah satu penentu mengapa sinetron remaja senantiasa hits adalah produser TV tidak harus banyak mengeluarkan modal. Jika membuat sinetron dengan bintang sinetron yang sudah memiliki sebutan aktris profesional, selain judulnya juga sudah diperdebatkan didalam internal secara ketat, nama nama pemain juga harus diseleksi sedemikian rupa sehingga jika sinetron tersebut diiklankan langsung mendapatkan respon dihati pemirsa TV, karena sekali shooting dalam satu tayang sinetron produser harus mengeluarkan Rp 800 juta bahkan 1 milyard hanya untuk seorang Joe Taslim. Tentu uang sebanyak Rp 800 juta itu bisa untuk membayar banyak artis-artis remaja yang masih dalam rangka mengembangkan bakat, bahkan dapat 10 orang artis remaja putra dan  putri dengan memilih judul sinetron yang tidak seketat untuk seorang artis yang sudah memiliki nama besar. Hebatnya lagi dengan judul yang tergolong biasa terkadang dari sinetron tersebut melahirkan artis-artis baru yang secara otomatis menaikkan nama judul sinetron yang dibintanginya.

Jika sinetron remaja itu belum populer, maka ada iklan terhadap sinetron remaja tersebut secara massif memberitakan terus menerus melalui infotainment yang berbasis di TV swasta terhadap bintang utama dan para pendatang baru senitron remaja tersebut, sehingga pelan namun pasti sinetron remaja tersebut semakin hari semakin banyak diketahui oleh masyarakat dan rating sinetron tersebut dalam waktu sebentar sudah naik dan mendapatkan tempat di hati penonton TV. Disinilah infotainment memiliki peran yang signifikan dalam menaikkan rating sinetron remaja yang masih didominasi pendatang baru.

Beberapa sintron remaja yang senantiasa hits dari tahun ke tahun antara lain : Opera SMU, Benci Bilang Cinta, Benci Jadi Cinta, Impian Cinderella, Cowok Impian, Putri Kembar, Dua Hati Satu Cinta, Sumpeh Gue Sayang Loe, Kau Masih Kekasihku, Pangeran Penggoda, Rahasia Pelangi, Dua Hati, Berani Tampil Beda, Benar-benar Cinta, Bukan Diriku, Pengantin Remaja, Bintang, Pacarku Besar Sekali, Cincin, Liontin, Intan, I Love You Boss!, Buku Harian Nayla, Cinta Remaja, Darling, Demi Cinta, Jangan Pisahkan Kami, Cinta Sejati, Atas Nama Cinta, Pasangan Heboh, Pura-Pura Kawin, Cinta Fitri, Cewekku Jutek, Kakak Iparku 17 Tahun, Pelangi di Matamu, Ciuman Pertama, dan Super Puber. Dari semua judulnya sinetron remaja yang populer di layar kaca hanya sedikit yang tidak mengkaitkan asmara, sehingga alur ceritanya pasti tidak pernah lepas dari masalah kenakalan remaja, pergaulan bebas, kekerasan dan percintaan, judul yang bernada pornografi antara lain  seperti Ciuman Pertama, Pasangan Heboh, dan Super Puber  dari judulnya saja sinetron tersebut sudah melanggar P3SPS.

Disinilah kemana ideologi pengelola media itu diarahkan, jika orientasinya hanya mengejar rating, mengejar keuntungan secara financial semata dalam memanfaatkan keterbatasan penonton, maka target bisnis pengelola media akan mudah tercapai, akan tetapi jika orientasi pengelola media tidak hanya mengejar keuntungan semata, melainkan menyisipkan nilai-nilai edukasi, nilai pendidikan moral, nilai keberaragaman dan kebersamaan maka tetap akan mendapatkan keuntungan materi dan non materi karena sanggup membangun karakter bangsa melalui tayangan TV dalam bentuk sinetron remaja karena kebanyakan remaja sukanya hanya mencoba, meniru dan melakukan. Semoga***(Muhith, M.Ag, Koordinator Isi Siaran KPID Kepri, Dosen STIQ Kepri)